• Home
youtube linkedin facebook twitter instagram email

Woman and Secrets

Welcome to my blog. I share some stories here.

Satu lagi kelakuann yang menonjol dari Lusi ini. Dia sering tidak masuk kelas! Sehari masuk, dua hari tidak. Atau sebaliknya. Tentu saja image-nya semakin negatif karena hal itu. Tak jarang anak-anak menjadikan hal itu bahan taruhan sebelum bel kelas berbunyi.
“Ayo taruhan ta, tak tebak hari ini Lusi gak masuk!!”, teriak Vanda tiba-tiba.
“Aku nebak masuk!”, kataku.
“Aku juga!!!!”, Dena menyetujui ucapanku.
“Oke kalo gitu aku nebak dia gak masuk. Yang kalah traktir es teh ya!”, sahut Lita.
“Okeee!!!”
Yang terjadi adalah Lusi tidak masuk pada hari itu, jadilah aku mentraktir dua temanku yang lain walaupun sebenarnya itu bukanlah hadiah kalah taruhan. Kami hanya bercanda.
Seiring dengan berjalannya waktu sampai kelas delapan ini, aku tak tahu bagaimana asal-usulnya Lita tiba-tiba bisa sangat akrab dengan Lusi. Padahal dia dulu adalah anak yang paling semangat kalau membicarakan hal buruk dari anak itu. Tak jarang terlihat mereka berdua makan bareng bekal yang mereka bawa. Mungkin Lita sudah mendapat hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa agar tidak berbuat tercela kepada orang lain. Hahahahaha
Dan sampai sekarang orang yang paling dekat dengan Lusi siapa lagi kalau bukan Lita. Suatu saat aku ingin menanyakan mengenai sikapnya yang berubah drastis itu, tetapi kuurungkan. Aku pikir mungkin lebih baik begitu. Dan dengan aku mengajukan pertanyaan seperti itu mungkin akan sedikit menyinggung perasaan. Tapi sayang sekali di kelas delapan ini mereka tidak sekelas. Lusi pun senang menyendiri lagi. Menurutku dia adalah jenis orang yang sukar beradaptasi, tetapi dia juga cuek dan tidak peduli terhadap apa kata orang yang berbicara tentang dirinya.
Hari pertama di kelas delapan berlalu sangat menyenangkan. Begitu juga dengan hari hari berikutnya. Sebenarnya pada hari-hari pertama anak-anak di kelas 8E ini terbagi menjadi dua kubu dan saling tidak menyukai. Kubu yang pertama dari kelas 7D dan yang kedua 7E. Tapi lama-kelamaan kami bisa berpikir dewasa dan  bisa menerima satu sama lain. Tetapi yang tetap adalah kelakuan si Lus ini. Sering absen tetap menjadi kebiasaannya. Hampir satu kelas risih dengan sikapnya yang satu itu. Jelas kami semua tak habis pikir..
Hari ini, suatu hari di pertengahan bulan Mei di pelajaran TIK. “Anak-anak kalian mendapat tugas majalah. Mengenai pembagian kelompok sudah saya tentukan sendiri seperti yang tertulis di papan tulis ya. Harus sudah selesai sebulan ke depan!”, seru Pak Kiki begitu masuk kelas. Aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah ketika menoleh ke whiteboard, karena disana tertulis aku sekelompok dengan Lusi. Selain Lusi ada juga Laras dan Deva yang tidak bermasalah. Tiap-tiap kelompok pun saling berkumpul untuk berdiskusi.
“Ayo, kita harus nentuin ketua dulu nih”, kata Laras.
“Iya! Dinda aja!”, sahut Debi.
“Weee males-males. Kok aku-_-”,  aku keberatan.
“Udahlaah gapapa, kamu kan anak JAWS”, ujar Laras.
“Loalah yaudah deh”, aku pasrah.
Aku pun segera mebagi tugas dan menentukan bahwa deadline-nya adalah seminggu sebelum deadline sebulan dari Pak Kiki itu. Karena pasti membutuhkan waktu untuk mengedit dan mencetak.
Pengerjaan tugas itu berlangsung lancar-lancar saja. Hingga pada  hari deadline Lusi tidak masuk sekolah. Tentu saja kami sangat kebingungan karena lusa  mejalah tersebut sudah harus masuk ke percetakan. Laras yang selalu kaya pulsa di handphone-nya pun langsung menelepon anak itu.
“Lus kamu dimanaaaaa? Tuga TIK yaapa ini?”
“Aku sakit. Besok aja ya. Tapi aku gak janji selesai semua.”
“Loalah cepet sembuh ya. Usahain juga ya. Assalamualaikum”
Setelah tetefon ditutup kami bertiga langsung berbicara hampir bersamaan. “Lho yoopo seeeeh!!!!!!!!!“. Bagaimana tidak, kemana saja dia selama ini sampai pada hari deadline belum selesai. Toh kita bertiga saling membantu. Karena takut besok Lusi tidak bisa menyelesaikakn tugasnya, kami bertiga pun mengerjakan beberapa tugasnya.
Keesokan harinya ketika jam pelajaran ke-empat sehabis istirahat aku, Laras dan Deva dipanggil ke ruang guru oleh wali kelas kami.
“Ada apa Bu?”, tanyaku begitu sudah ada di hadapan Bu Esti, wali kelas 8E.
“Begini. Saya tadi mendapat telefon dari Ibunya Lusi. Katanya Lusi gak mau masuk sekolah soalnya ada tugas TIK banyak yang harus dikumpulkan hari ini. Saya dengar kalian kelompoknya?”
“Lho, kami gak bilang begitu, Bu. Tugas itu dari 2 minggu yang lalu dan deadline-nya kemarin.  Saya dengar dia sakit jadi kami cuma minta agar dia mengusahaknnya. Malah kami mengerjakan beberapa tugasnya Bu”, sanggahku.
“Saya tidak tahu. Tadi orang tuanya bilang begitu. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi. Soalnya kalau berurusan dengan orang tua memang ribet. Sekolah tidak mau terkena masalah”, ujar Bu Esti Kanawa.
“Iya Bu.”, kata kami bertiga serempak sambil berlalu meinggalkan ruang guru. “Duuuuh Lusi itu maunya apaseeeeh” “Iyaaapek udah dibantu kenapa kok malah gitu. Gini ini kan nama kita jadi jelek” “Iya huuh. Kesannya kita jahat banget gitu. Yawes ayo gak usah dipikirin”.
Dua hari setelah kejadian itu Lusi kembali masuk sekolah dan mengumpulkan tugas TIK majalah yang tentu saja kurang. Untung saja beberapa tugasnya sudah kami kerjakan. Akhirnya tugas majalah pun sukses dan selesai, walaupun pengumpulannya sedikit terlambat.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Baru.
Ya, ketika sesuatu berakhir, pasti ada sesuatu baru dimulai. Entah sesuatu yang baru itu kita sukai atau tidak, pastilah kita harus dapat menerima, kan? Pertanyaan retoris memang, karena jawabannya pasti iya.  Aku pun merenung mengingat besok adalah hari pertamaku menjadi 8th grader. Kabarnya penempatan kelas baru ini benar-benar acak, sehingga bisa saja aku sekelas dengan anak yang sangat tak dekat denganku, atau bahkan tak kenal sama sekali. Sebenarnya bukan masalah yang besar sih, hanya sekedar memikirkan saja. Sesuatu yang baru memang butuh adaptasi. Akhirnya sebelum tidur, aku membatin, “Bismillah aja lah.”
Keesokan harinya aku berangkat dengan perasaan yang biasa saja. Ketika sampai dikelas baru, aku terkejut melihat orang-orang yang ada di dalamnya. Ternyata teman-teman kelasku selama setahun ke depan ini tidak benar-benar berbeda dari sebelumnya. Setengah dari siswa kelas itu adalah temanku dikelas yang lama, setengah yang lainnya dari kelas sebelah yang beberapa juga sudah kukenal.
“Din! Din! Sini!”, teriak Rani temanku dari bangku ketiga di tengah kelas, sambil menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Aku yang sebelumnya memandang ke seluruh kelas pun langsung berjalan ke arahnya dengan wajah nyengir. Setelah duduk tepat di sebelah Rani, kulanjutkan pengamatanku ke kelas baru ini. Tak hanya orang-orangnya, namun juga kondisi fisik kelas. Kulihat ada Bima, Niko, Fani, Vanda, dan yang lainnya. Di pojok belakang kelas ada seorang perempuan yang duduk sendirian sambil bermain HP. Tentu saja aku kenal perempuan itu, karena dia termasuk teman sekelasku juga di kelas 7. “Masih tetap weird ternyata”, batinku dalam hati. Aku pun teringat setahun lalu, hari pertama menjadi seorang siswa kelas 7, di kelas 7D.


*****

Dua orang yang ada di depanku pun membalikkan tubuhnya ke belakang. “Lihat deh anak itu yang rambutnya hasil rebondingan yang kayak sapu itu! Aneh banget pek kelakuannya!’, ucap Lita memulai pembicarann. “Itu ta?”, tanyaku. “Oalah anak ituu, iya pek. Dia kan waktu MOS se-gugus sama aku, terus dia lho sering dimarahi sama senior soalnya mainan HP. Terus pas dimarahin gitu wajahnya gaenak banget, kayak nantang gitu”, kata Dena. “Gerak geriknya aneh gak sih? Kayak ngganjel gitu”, timpal Vanda yang duduk di sebelah Dena. Dalam hati aku pun menyetujui semua yang dikatakan teman baruku itu, karena memang tingkah laku anak berkulit sawo matang itu memang janggal. Aku pun bertanya,”Sapa namanya eh?”, “Anak itu ta? Lusi namanya.”

*******

Aku pun tersadar dari lamunannku ketika ditegur oleh Rani. Tapi aku tetap memikirkan si Lusi itu. Dari kelas 7 aku memang tak dekat dengannya. Aku tak tahu siapa yang salah, yang jelas dia memang senang menyendiri. Dulu sempat suatu hari aku mencoba untuk mmenyapanya dan memintanya kenalan, tapi jawabanynnya sangat dingin, dia hanya tersenyum terpaksa  dan mengucapkan sepatah kata saja, yaitu namanya. Belum lagi ketika mengucapkan satu kata itu, dia tak menoleh ke arahku sama sekali! Sedikit menyebalkan juga pikirku.
Rambut lurus rebondingnya itu lho! Menjadi bahan omongan banyak anak. Bahkan sampai kakak kelas terutama yang dari MOS sudah tidak suka dengannya. Dua bulan setelah MOS ada segerombolan anak kelas 8 datang ke kelasku dan bertanya yang tidak jelas kepada siapa karena keras nada bicaranya. “Eh, eh mana sih yang namanya Lusi?”, kata anak kelas 8 yang bernama Chita. Dido-lah yang menjawab pertanyaan itu karena posisinya paling dekat dengan mereka. “Itu, Mbak. Yang make earphone itu” “Oalaaaaaaah”, kata mereka sambil berlalu dan tertawa. Yang sedang diomongkan entah sadar atau tidak kalau dia sedang diomongkan. Karena dia tidak menoleh sama sekali ke arah pintu kelas, dan hanya tetap fokus pda HP-nya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
sebenernya ini tadi mau nulis tentang jualannya MPDK di S2LC hari ini lho. tapi aku tiba-tiba mikirin sesuatu ya yang jujur aja, ngebuat sedih.


waktu itu bener-bener bisa ngerubah seseorang ya. kalian pernah ngerasain perubahan di diri kalian gak selama ini? entah dari segi manapuuuun. aku masih inget banget gimana aku pas kelas 2 SD dulu. terus kelas 4, sekarang aku sadar itu pertama aku ngelamin perubahan yang bener-bener besar dan... kayaknya aku tau sebabnya. kelas enam.... SMP kelas satu... Sampai sekarang. 


perubahan itu fluktuatif kan emang. kadang baik tapi ya kadang jelek. dan aku gak suka yang jelek itu lho seriuuuus:'( aku juga tau kapan aku mulai jadi orang melankolis yang sensitif buanget dan bnrbnr takut sama apa yang dibilang orang tentang aku.. padahal dulu aku gak gini! :( sebenernya aku tau... itulah alesannya kadang aku puengen banget jadi psikolog.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

 

ini lhooo ada lagu bagus! ya biasa aja sih cuman easy listening gitu. terus terus liriknya dualeeem banget. walopun aku gak ngalamin tapi buat yang ngalain pasti ngena banget deh deh deh

http://www.youtube.com/watch?v=6AC-fZSaks4 

 

Forever and Always (Taylor Swift)

 



Once upon a time, I believe it was a Tuesday
When I caught your eye
And we caught onto something, I hold on to the night
You looked me in the eye and told me you loved me
Were you just kidding? 'Cause it seems to me

This thing is breaking down, we almost never speak
I don't feel welcome anymore
Baby, what happened? Please tell me
'Cause one second it was perfect
Now you're halfway out the door

And I stare at the phone and he still hasn't called
And then you feel so low, you can't feel nothin' at all
And you flashback to when he said, forever and always
Oh, oh

Oh, and it rains in your bedroom, everything is wrong
It rains when you're here and it rains when you're gone
'Cause I was there when you said forever and always

Was I out of line? Did I say something way too honest
That made you run and hide like a scared little boy?
I looked into your eyes, thought I knew you for a minute
Now I'm not so sure

So here's to everything, coming down to nothing
Here's to silence that cuts me to the core
Where is this going? Thought I knew for a minute
[ From: http://www.elyrics.net/read/t/taylor-swift-lyrics/forever-&-always-lyrics.html ]
But I don't anymore

And I stare at the phone and he still hasn't called
And then you feel so low, you can't feel nothin' at all
And you flashback to when he said forever and always
Oh, oh

Oh, and it rains in your bedroom, everything is wrong
It rains when you're here and it rains when you're gone
'Cause I was there when you said forever and always
You didn't mean it, baby, I don't think so
Oh, oh

Oh, back up, baby, back up, did you forget everything?
Back up, baby, back up, did you forget everything?

'Cause it rains in your bedroom, everything is wrong
It rains when you're here and it rains when you're gone
'Cause I was there when you said forever and always

Oh, I stare at the phone and he still hasn't called
And then you feel so low, you can't feel nothin' at all
And you flashback to when we said forever and always

And it rains in your bedroom, everything is wrong
It rains when you're here and it rains when you're gone
'Cause I was there when you said forever and always
You didn't mean it, baby, you said forever and always


*****



delem kan:>:>
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
“For me, to be a writer is to acknowledge the secret wounds that we carry inside us, the wounds so secret that we ourselves are barely aware of them, and to patiently explore them, know them, illuminate them, to own these pain and wounds, and to make them a conscious part of our spirits and our writing.”
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pernah gak sih kalian pengen ngungkapin sesuatu yang ada di pikiran kalian ke orang lain, tapi susaaaaaah banget? Aku sering lho.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
"Kadang aku  bingung" 
"Lapo"
"Lek misale ada orang yang dibilang orang-orang lain cantik, kok menurutku belum tentu gitu lho"
"Yo berarti seleramu beda"
"Apa yaa.. Gak sekedar itu seh. Aku ngelihat kecantikan seseorang itu dari hatinya"
"Wosos. Berarti aku ayu la'an"
"Iya."
"Waaaaah:> :3 B)"
"Yo mosok ganteng Din wahaha"

-_____-
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Dan lagi-lagi aku baru menyadari kalau kita semua sudah beranjak dewasa, ketika Ibuku memberitahu bahwa Masku yang tertua dan satu-satunya sudah diterima di Perguruan Tinggi. Seketika itu aku juga mulai merenung... 6 tahun lalu.. sekolahku.. dan semuanya.

Tetapi esoknya aku baru menyadari sesuatu. "Lek masku kuliah berarti tinggale nang Suroboyo, nang omah iki la'an!" Sesungguhnya 6 tahun tidak se-rumah dengan Mas Bhima sedikit banyak merupakan sebuah kebahagiaan. tak ada lagi perebutan remot TV, saling mengadu ke Ibu jika sedah bertengkar, ataupun yang lainnya. Belum lagi dia sering bersekutu dengan adikku yang juga laki-laki untuk memojokkanku. Itu semua masih sesuatu yang wajar. Tak jarang aku bisa sangat tersinggung atas apa yang telah dia lakukan.

Sekarang, dengan 'kembalinya' dia, aku hanya bisa mbatin. Bismillah ae lah
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Cuman iseng nge-post aja nih. aku suka pol pol sama buku buku detektif, dari novel sampe komik. kalo novel, biasanya novel karangannya Agatha Christie, Sir Arthur Conan, S Mara GD, dll. kalo komik ya jelas Detektif Conan dong :3 awal-awalnya suka buku2 gituan dari pakdeku. dia beli2 komik sama novel2 detektif yang akhirnya tak baca. walopun gak cuma detektif sih. tapi yang paling aku suka tuh karangannya Agatha Christie, buagusss. tipe penceritaannya beda sama yang lain

Agatha Christie : lebih cenderung ke kasus pembunuhan (walopun gak semua). terus lebih memperlihatkan tipuan alibi, dan semuanya diungkapin detail buanget.

Sherlock Holmes : bener-bener nyeritain seorang detektif yang bener-bener pinter. caranya nyelesain kasus gak diungkapin secara detail, tiba tiba terpecahkan gitu. dan Sherlock Holmers ini rata, gak cuman pembunuhan terus, kasus-kasus kayak pencarian orang, dsb juga sering.

Detektif Conan : misalnya ada kasus, kasusnya itu biasanya mengandalkan teknik sama alibi. teknik2nya kayaknya gak mungkin banget di kehidupan nyata. tapi tetep aja mbuat yang mbaca kagum, soalnya kok bisa gitu ya si Aoyama Gosho bisa kepikiran kayak gitu .__.


S Mara GD : beliau adalah pengarang novel yang juga penerjemah novel Agatha Christie. makanya dia belajar dari situ. walopun ada beberapa kasus yang endingnya bisa ketebak, lumayan juga lah buat Indonesia. beliau juga dijulukin Agatha Christie-nya Indonesia.


nah itu beberapa perbedaan buku detektif menurut aku. ini nih bukunya Agatha yang pertama kali aku baca 

kira-kira kelas 5 nih
Share
Tweet
Pin
Share
No comments









I am not a graceful person. I am not a Sunday morning or a Friday sunset. I am a Tuesday 2am, I am hunshots muffled by a few city blocks, I am a broken window during February. My bones crack on an nightly basis. I all from elegance with dull thud, and I apologize from my awkward sadness. I sometimes believe that I don’t belong around people, that I belong to all the leap days that didn’t happen. The way light and darkness mix under my skin had become a storm. You don’t see the lightning, but you hear the echoes.







Share
Tweet
Pin
Share
No comments
:)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

capeeek ,tapi seruuu :D

by Ayu Kurnia Permatasari on Saturday, April 10, 2010 at 12:04pm ·
Pada hari Jum'at tanggal 9 April 2010 ..SMP negeri 6 memulangkan anak didiknya pukul 13:00 ..salah satu dari murid tersebut ,ada yang waktu pulang ,tidak langsung pulang ke rumahnya ..(nakal banget)

Ada murid yg bernama AKP dan DNF pergi ke TP ,jalan kaki !!!bayangkan dari SPENSIX ke TP jalan ????keren kan ????

Pengalaman yang mungkin tidak dilupakan :

1.Tanya anak satu kelas bemo ke TP itu apa ya ??dan nggak ada yg tauu
2.Di jalan nekat tanya tanya orang kudu naik bemo apa ??eh ternyata nggak ada yg tau ..
3.Akhirnya kita putuskan untuk jalan sampai menemukan bemonyaa ..
4.Ternyata kita tidak menemukan ,akhirnya pun jalan sampai TP ..
5.Di tengah perjalanan ada satpam tanya bahasa indonesianya yg ada di brosur ,kita pun bisa jawab !!(kata satpam : woh anak itu hebat :D)
6.Daaan smpai di TP
7.Di tanya satpam ,kenapa ga bawa jaket ,,di bo.ongin deh tuh satpam haha
8.Setelah masuk TP kita langsung ke foud court ,dan makan ..di saat makan ,,sendoku putus ..hahaha ;D
9.Setelah makan kita jalan ber4 bukan ber2 lagi ;D
10.Kita saling tanya mau kemana ..dan jawabnya "TERSERAH mulu" huahahaha ..

Dan pada akhirnya kita jalan ber2 lagi sampai di jempuuut ..

Meskipun yg bca ini kayaknya nggak spesial ,tapi kalo yang tau ,pasti tau banget apa yg spesial ,muahahahahaha :D

*****

muahahah gila sekali pas itu. bayanginnn deh. ternyata gak cuman kita yang kayak gitu! baru2 ini aku liat Silvi adek kelas Spensix kelas 9 juga jalan Spensix-TP kaya gitu, berdua juga sama temennya, namanya Uli. tuhkaaan bener2 asik deh!!! tapi kejadian itu gak bakal terulang kayaknya...




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
haha pasti udah tau situs 9 gag kan? nah di grup Sendal Jepit (kelasku di smala) di facebook anak-anak pada ngedit2 gambar di 9gag terus pada ngupload gambarnya di grup itu haha. lucu2 :3333



 ini dari Upil yang fbnya sempet dibajak sama Taufiq. wkwk nguawur Taufiq iku


 nb: mas sat itu guru TIK












mungkin ada beberapa dari kalian yang gamudeng itu maksudnya apa, tapi bagi anak2 sendal jepit lucu banget wahahahaha
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

I love to sing and dance. A book lover. Homebody of some sort. Pretty ambitious.

Search This Blog

Follow Us

  • quora
  • linkedin
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • youtube

Categories

  • Pertukaran pelajar
  • abroad

Blog Archive

  • March 2019 (2)
  • December 2017 (1)
  • June 2017 (3)
  • April 2017 (2)
  • March 2017 (3)
  • February 2017 (2)
  • July 2016 (1)
  • October 2015 (1)
  • September 2014 (1)
  • February 2014 (2)
  • January 2014 (1)
  • February 2013 (1)
  • December 2012 (2)
  • November 2012 (1)
  • October 2012 (7)
  • September 2012 (5)
  • August 2012 (4)
  • July 2012 (1)
  • June 2012 (3)
  • May 2012 (10)
  • April 2012 (2)
  • March 2012 (3)
  • February 2012 (2)
  • January 2012 (1)
  • December 2011 (5)
  • November 2011 (6)
  • October 2011 (4)
  • November 2010 (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates